You are here: Home Ekspresimu

KOMUNITAS MATAPENA

Ekspresimu

AGRASI

E-mail Print PDF
Oleh : Mahfudz (V IPS)


Kira-kira 4 hari yang lalu, tepatnya tanggal 22-24 Februari kami mengadakan AGRASI (AL-MIZAN) GALANG KREASI. Yaitu kegiatan yang menerapkan unsur-unsur kepemimpinan, sebagaimana yang diajarkan kepada siswa-siswa Al-Mizan. Selain bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan antar pondok pesantren, dalam agrasi ini panitia banyak sekali menggelar perlombaan untuk para kontingen.
Aku banyak mendapatkan pengalaman dari kegiatan ini, dan yang tidak kalah penting adalah pelajaran. Bagaimana caranya memimpin, mengatur waktu, menilai perlombaan, membuat gapura, dan banyak lagi .
Aku sempat merekam perkataan seorang ustadz: “Kalau jadi orang itu harus cekatan dan bisa membaca situasi dan tidak seperti jarrod.” Artinya tidak hanya melihat, melotot, tetapi tidak bisa mengambil pelajaran dari apa yang telah dilakukannya.
Tak disangka, dalam agrasi ini, banyak orang yang berbeda-beda yang terlihat tidak mempunyai kemampuan ternyata bisa melakukan sesuatu yang besar dan menggemparkan buper secara tiba-tiba. Para peserta juga mendapat kesempatan untuk membuat yel-yel yang lucu-lucu dan menarik sehingga bisa mengundang dukungan khalayak ramai.
Kreasi dan atraksi para santri juga unik-unik. Ada yang seperti ABRI dengan rambut cepak yang ditampilkan secara bersamaan. Ada yang seperti polisi komplit dengan pistol yang terlihat asli. Ada yang seperti Batman dengan kaca mata zero dan sayap yang berkibar.
Setelah semua nilai hasil pertandingan dikumpulkan, dan setelah progam pada malam harinya, keesokan harinya kami mengumumkan juara-juaranya.
 

Dheindy

E-mail Print PDF
Gemercik hujan membasahi seluruh alam al-Falah. Semilir angin disertai dinginnya udara pagi mendukung para santri untuk tertidur pulas. Tak seorang pun yang terbangun melainkan Dheindy sendiri. Cewek ini merupakan yang paling unggul di antara yang lainnya.
Tok…tok… Suara keamanan mulai muncul untuk membangunkan anggota setiap kobong. Satu persatu santri bangun dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu mempersiapkan diri untuk shalat berjamaah.
Shobahul khoir…! Kegiatan muhadatsah pagi mulai berlangsung. Membuat suasana pagi menjadi hangat dengan teriakan para santri. Setelah selesai muhadatsah pagi para santri berlari-lari untuk mengantri mandi pagi. Kasihan Dheindy dan Riska, mereka dapat urutan terakhir.
“Dheindy udah siap belum?” Sambil mengambil sepatu untuk lomba lari marathon.
“Ok, ok, sebentar lagi!” ia menimpali Riska, keras.
Cleng… cleng… lonceng pun mulai dipukul. Dheindy dan Riska bergegas lari sekencang mungkin. Namun usaha mereka untuk tidak terlambat ternyata sia-sia. Kismul Amni sudah stand by di gerbang pintu sekolah sambil bawa jilitan (ih… serem juga yach, kaya kusir delman). Mereka  terdiam seketika tak bisa berbuat apa-apa. mereka sudah pasrah untuk nerima hukuman dari Kismul Amni.
Last Updated ( Sunday, 20 December 2009 14:52 )
 

Anugerah Cinta di Ramadlan

E-mail Print PDF
Oleh: Nur Aida
Di pertengahan bulan ramadhan semua santri di Ponpes Ar-Rifa’i pada mudik dan betapa hari itu Rina dan Vina juga mau mudik ke Mataram. Perjalanan Jakarta menuju Mataram membutuhkan waktu cukup lama. Apalagi bulan ramadhan, waduh kayaknya nih cuaca tidak begitu mendukung tuh, dengan begitu sabarnya Rina dan Vina menungu kedatangan sang pujangga hati yaitu kereta api.
Hampir satu jam Rina dan Vina menunggu KA di stasiun. Dan di stasiun itulah Rina dan Vina melihat orang yang sudah berkepala lima sedang mengejar anaknya. Orang tua it uterus mengejar-ngejar sambil berkata, “Nak pulanglah, jangan main terus.”
“Tidak, aku tidak akan pulang,” si  anak menimpali.
Di tengah panasnya terik matahari orang tua itu tanpa henti-hentinya mengejar sang buah hati. Sementara sang buah hati tidak menghiraukan apa yang dikatakan orang tuanya. Ribuan mata menyaksikan kejadian itu, tak terkecuali pandangan Rina dan Vina yang juga tertuju pada kejadian tersebut. Ada di antara sepasang mata yang berkata “Dasar anak durhaka. Ga’ tau balas budi sama orang tua. Masih mending itu anak dikasihani, e… e… e… eh… malah gak merasa.
 

Batu

E-mail Print PDF

Oleh: Adam R. Nugraha

Angin malam mulai bertingkah seolah-olah sudah menjadi sebuah kebiasaan untuk menemani Batu yang selalu terdiam di muka jendela. Ranting pun girang ikut menari bersama nyanyian angin, mencoba menghibur mata Batu yang sepi; sedang mengenang tapak sejarah hidupnya.
Saat menatap lapang kosong yang dipagari pohonan rimbun. Batu menangkap sebuah tanya dalam benaknya.
“Kenapa aku ada di sini, sebuah tempat yang banyak orang menyebut sebagai penjara suci?”
Tak lama kemudian ada rumput yang melintas di hadapannya, dia menjinjing setumpuk sampah yang akan dibuangnya ke dalam bak sampah berkumpul bersama temannya yang tak punya arti lagi, suasana hening kembali setelah rumput kembali ke kamarnya untuk meneruskan mimpinya.

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Page 1 of 2

Latest Members

Galeri Foto

Berlangganan FEED via email

Enter your email address:

Latest Comments

Who's Online

We have 2 guests online