You are here: Home Ekspresimu

KOMUNITAS MATAPENA

Ekspresimu

Sajak Surat

E-mail Print PDF
Sajak Surat Seorang Bapak Kepada Anaknya
S. Sidiq

Setelah sekian lama harapan tak terwujudkan
Impian tak jadi kenyataan
Apalagi yang kau nantikan?
     Pulanglah, Nak
     Sepetak sawah
     Sebidang kebun
     Telah Bapak sediakan
          Pulanglah nak,
          Tinggalkan kebiasaan kota
          O, bukannya dulu pernah kau katakan 
          Tak inginkan kemewahan tapi ketentraman
          Kau idamkan hidup yang tenang
          Di antara sanak kandang pedesaan
 

Selamat Tinggal

E-mail Print PDF
Cerpen By: Ira Rahmawati
2 Aliyah Al-Mizan

Pagi itu langit agak suram. Sang surya pun enggan menampakkan sinarnya. Entah kenapa rasa khawatir dan cemas menimpa seorang gadis kelas 3 SMA yang sedang duduk di depan teras rumahnya sambil melamun.
“kring…kring…” suara telephon berbunyi dan dengan cepat gadis itu mengangkatnya.
“Hallo, benar di sini rumah Nona Zaina?” suara dari penelphon.
“Ya, saya sendiri, ada perlu apa yach?” sejenak menunggu jawaban.
“Apa nona Zaina keluarga dari saudara Rama?”
“Maaf bukan, saya bukan keluarganya. Saya  temannya Rama.”
“Ya sudah kalo begitu tolong kabari keluarganya, Saya dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan bahwa sekarang saudara Rama ada di rumah sakit, dia kecelakaan!”
“APA!? Baik, Sus. Saya akan segera mengabarkan pada keluarganya. Makasih, Sus.” Ucapnya dan langsung menutup telephonnya dan bergegas mengabarkan berita itu.
Setelah mengabarkan hal-tersebut Zaina langsung pergi menuju rumah sakit, dimana Rama di rawat.
“Rama…kamu baik-baik saja kan!” ucap Zaina pada Rama yang berbaring di atas ranjang.
“Engga kok, Zai. Aku ngga’ apa-apa.”
“Syukurlah kalau begitu, Ram. Aku keluar dulu yach.”
“Dok, bagaimana keadaan Rama, Dok?”
“Untuk sekrang ini dia memang dalam keadaan baik, namun ada luka di bagian matanya yang sewaktu-waktu bisa menyebabkan kebutaan dan….”
Last Updated ( Monday, 12 April 2010 23:32 )
 

Sajak-sajak Okta

E-mail Print PDF
SENJA HAMPIR TIBA

Saat kau kecup kening kehidupan di langit pagi
Ada banyak mawar bermekaran di pekarangan jiwa
Namun kemudian layu terbias senja, seperti kau tau
Dunia memang fana
Tapi mengapa kau selalu terlena
Tak pernah kau mau mendegar kata-katanya
Apakah kelak kau punya penjaga selain dia?


“AJAL”

Suatu nama penuh makna datang tiba-tiba
Aku terpana semakin yakin diri
menyaksikan perpisahan roh dan jiwa
bukan tontonan yang kesepuluhan kalinya
dengan berbagai gaya dan ekpresinya kulihat
nyata di setiap sudut rumah sakit
subhanallah… Ajal itu nyata!
Ajal itu ada!
Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un
Last Updated ( Monday, 12 April 2010 22:32 )
 

Sujudku

E-mail Print PDF

By: Lilies [5 IPA]

Saat malam itu tiba
Bulan pun tak nampak
Kala rasa hati berselimut gundah
Kala kuingin mencoba merubah
Namun kuhanya mampu terdiam

     Dan….
     Isak tangis pun terdengar
     Bagai dihantam bebatuan
     Diri ini terlempar ke lembah kebencian
     Perdamaianpun tak kunjung datang.


Wahai pagi…
Ku tak harap kehadiranmu
Biarkan diri ini mengadu
Dalam sujudku
Andaikan saja diri ini si rumput liar
Yang tak akan binasa
Walau di hantam bebatuan

Last Updated ( Monday, 12 April 2010 22:31 )
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Page 1 of 3

Latest Members

Galeri Foto

Berlangganan FEED via email

Enter your email address:

Latest Comments

Who's Online

We have 4 guests online