Monday, 12 April 2010 23:32
administrator
Sajak Surat Seorang Bapak Kepada Anaknya
S. Sidiq
Setelah sekian lama harapan tak terwujudkan
Impian tak jadi kenyataan
Apalagi yang kau nantikan?
Pulanglah, Nak
Sepetak sawah
Sebidang kebun
Telah Bapak sediakan
Pulanglah nak,
Tinggalkan kebiasaan kota
O, bukannya dulu pernah kau katakan
Tak inginkan kemewahan tapi ketentraman
Kau idamkan hidup yang tenang
Di antara sanak kandang pedesaan
Monday, 12 April 2010 23:23
administrator
Cerpen By: Ira Rahmawati
2 Aliyah Al-Mizan
Pagi itu langit agak suram. Sang surya pun enggan menampakkan sinarnya. Entah kenapa rasa khawatir dan cemas menimpa seorang gadis kelas 3 SMA yang sedang duduk di depan teras rumahnya sambil melamun.
“kring…kring…” suara telephon berbunyi dan dengan cepat gadis itu mengangkatnya.
“Hallo, benar di sini rumah Nona Zaina?” suara dari penelphon.
“Ya, saya sendiri, ada perlu apa yach?” sejenak menunggu jawaban.
“Apa nona Zaina keluarga dari saudara Rama?”
“Maaf bukan, saya bukan keluarganya. Saya temannya Rama.”
“Ya sudah kalo begitu tolong kabari keluarganya, Saya dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan bahwa sekarang saudara Rama ada di rumah sakit, dia kecelakaan!”
“APA!? Baik, Sus. Saya akan segera mengabarkan pada keluarganya. Makasih, Sus.” Ucapnya dan langsung menutup telephonnya dan bergegas mengabarkan berita itu.
Setelah mengabarkan hal-tersebut Zaina langsung pergi menuju rumah sakit, dimana Rama di rawat.
“Rama…kamu baik-baik saja kan!” ucap Zaina pada Rama yang berbaring di atas ranjang.
“Engga kok, Zai. Aku ngga’ apa-apa.”
“Syukurlah kalau begitu, Ram. Aku keluar dulu yach.”
“Dok, bagaimana keadaan Rama, Dok?”
“Untuk sekrang ini dia memang dalam keadaan baik, namun ada luka di bagian matanya yang sewaktu-waktu bisa menyebabkan kebutaan dan….”
Last Updated ( Monday, 12 April 2010 23:32 )
Monday, 12 April 2010 22:29
administrator
SENJA HAMPIR TIBA
Saat kau kecup kening kehidupan di langit pagi
Ada banyak mawar bermekaran di pekarangan jiwa
Namun kemudian layu terbias senja, seperti kau tau
Dunia memang fana
Tapi mengapa kau selalu terlena
Tak pernah kau mau mendegar kata-katanya
Apakah kelak kau punya penjaga selain dia?
“AJAL”
Suatu nama penuh makna datang tiba-tiba
Aku terpana semakin yakin diri
menyaksikan perpisahan roh dan jiwa
bukan tontonan yang kesepuluhan kalinya
dengan berbagai gaya dan ekpresinya kulihat
nyata di setiap sudut rumah sakit
subhanallah… Ajal itu nyata!
Ajal itu ada!
Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un
Last Updated ( Monday, 12 April 2010 22:32 )
Monday, 12 April 2010 22:23
administrator
By: Lilies [5 IPA]
Saat malam itu tiba
Bulan pun tak nampak
Kala rasa hati berselimut gundah
Kala kuingin mencoba merubah
Namun kuhanya mampu terdiam
Dan….
Isak tangis pun terdengar
Bagai dihantam bebatuan
Diri ini terlempar ke lembah kebencian
Perdamaianpun tak kunjung datang.
Wahai pagi…
Ku tak harap kehadiranmu
Biarkan diri ini mengadu
Dalam sujudku
Andaikan saja diri ini si rumput liar
Yang tak akan binasa
Walau di hantam bebatuan
Last Updated ( Monday, 12 April 2010 22:31 )