You are here: Home Ekspresimu Cerpen Anugerah Cinta di Ramadlan

KOMUNITAS MATAPENA

Anugerah Cinta di Ramadlan

E-mail Print PDF
Oleh: Nur Aida
Di pertengahan bulan ramadhan semua santri di Ponpes Ar-Rifa’i pada mudik dan betapa hari itu Rina dan Vina juga mau mudik ke Mataram. Perjalanan Jakarta menuju Mataram membutuhkan waktu cukup lama. Apalagi bulan ramadhan, waduh kayaknya nih cuaca tidak begitu mendukung tuh, dengan begitu sabarnya Rina dan Vina menungu kedatangan sang pujangga hati yaitu kereta api.
Hampir satu jam Rina dan Vina menunggu KA di stasiun. Dan di stasiun itulah Rina dan Vina melihat orang yang sudah berkepala lima sedang mengejar anaknya. Orang tua it uterus mengejar-ngejar sambil berkata, “Nak pulanglah, jangan main terus.”
“Tidak, aku tidak akan pulang,” si  anak menimpali.
Di tengah panasnya terik matahari orang tua itu tanpa henti-hentinya mengejar sang buah hati. Sementara sang buah hati tidak menghiraukan apa yang dikatakan orang tuanya. Ribuan mata menyaksikan kejadian itu, tak terkecuali pandangan Rina dan Vina yang juga tertuju pada kejadian tersebut. Ada di antara sepasang mata yang berkata “Dasar anak durhaka. Ga’ tau balas budi sama orang tua. Masih mending itu anak dikasihani, e… e… e… eh… malah gak merasa.
Gara-gara meyaksikan kejadian tersebut Rina dan Vina hampir saja ketinggalan KA. dengan mengambil seribu jurus Rina dan Vina sudah berada di dalam KA. Dengan begitu cepat Rina dan Vina mengambil tempat duduk yang dekat dengan jendela. Katanya sich biar enak, sambil melihat pemandangan githu. Setelah melewati dua stasiun dari tempat pemberangkatan tadi, ada cowok yang lumayan ganteng. Cowok itu duduk di samping Rina. Vina tertawa geli ketika melihat cowok tersebut. Vina hanya berfikir dan sempat timbul pertanyaan, masak sich ganteng-ganteng kok culun plus ngiler. Hi…hi…
Tiba-tiba Vina langsung mengucapkan sitighfar dan berdo’a, “Ya Allah, bukannya hamba-Mu ini menghina, mencela ciptaan-Mu. Sungguh hamba-Mu ini sangatlah banyak berbuat dosa kepada-Mu, maka ampunilah segala dosa-dosa hamba-Mu ini.”
Vina tersentak ketika Rina memukul tangannya sambil bertanya heran, “Vin kamu ngelamunin apa sich?”
“Nggak, nggak ada kok.” jawab Vina. Sesekali Vina mensyukuri ni’mat yang telah diberikannya kepada semua keluarganya. Hati Vina berkata “ya Allah sungguhlah adil, Engkau menciptakan hamba-Mu yang hidup di permukaan bumi ini, mulai dari yang cantik, yang jelek, pinter bodoh, kaya, dan miskin. Sunguh Engkaulah yang  Maha Kuasa di atas bumi ini.”
Pada detik itu juga Vina teringat pada keterangan guru waktu ngaji di bulan ramadhan. Ya… tentang kejadian sekarang ini. Pada intinya semua makhluk yang hidup di dunia ini tidak ada yang sempurnya kecuali nabi Muhammad.
Tanpa terasa jarum jam berputar dengan sangat cepat sehingga perjalanan dari Jakarta menuju Mataram tidak terasa. Kurang beberapa jam lagi Rina dan Vina akan pindah ke bus.
Setelah Rina dan Vina turun dari KA. Rina dan Vina langsung menaiki bus yang jurusan Mataram. Lalu duduk di samping dua pemuda yang umurnya mungkin sama dengan Rina dan Vina, tidak beberapa lama kemudian dua pemuda itu memperkenalkan diri kepada Rina dan Vina. Tanpa menolak  Rina dan Vina menerima perkenalan tersebut. Sebenarnya Rina dan Vina dari tadi yang ingin berkenalan, tapi mereka mengurungkan niatnya. Ketika mereka saling kenal. Eh… ternyata mereka satu pondok. Mereka tampak malu campur seneng saat proses perkenalan itu.
Lima menit lagi waktu buka puasa segera tiba. Vina dan Rina sudah berada di rumahnya masing-masing. Setelah Vina dan keluarganya selesai buka puasa, oran tua Vina memberi taukan pada Vina, bahwasannya Vina sudah dijodohkan dengan orang tanpa sepengetahuan Vina.
Vina tiba-tiba bungkam seribu bahasa, Vina berontak atas apa yang terjadi dengan dirinya tapi ini hanya dalam hati. Vina hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang tuanya.
Vina sendiri tidak tau siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak, yang tau hanya orang tua Vina sendiri dan orang tua calon suaminya itu. Setelah Vina tahu bahwa yang akan menjadi pendampingnya kelak adalah kakaknya Rina. Aduh Vina kegirangan, untung aja Vina gak pinsan ketika melihat dan  mendengar bahwa yang akan mendampinginya kelak adalah Rofi, kakak Rina.
Hati Vina berkata, “ya Tuhan, sungguh Engkau Maha Tau apa yang aku inginkan. Dari dulu aku suka sama Rofi. Dan sekarang Engkau benar-benar telah memberikannya kepadaku. Semoga dia kelak bisa membahagiakan aku dan anak-anakku. Amien.”
Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
 

Latest Members

Galeri Foto

Berlangganan FEED via email

Enter your email address:

Latest Comments

Who's Online

We have 5 guests online