Rasanya tiba-tiba Saya bosan hidup di jogja. Berawal dari kepulangan saya dari word book day 2009 di museum bank mandiri jakarta kemaren, saya dan teman2 matapena diantar ke stasiun senen oleh kawan saya, kawan baik yang sangking baiknya ingin saya jodohkan dengan adik atau mb kandung saya,
dia yang masih seumuran saya, yang background pendidikannya dari kecil di pesantren, kuliahnya juga di UIN Jakarta, tiba-tiba telah bekerja di CITY bank. Dia yang dulu kang santri, jadi gagah, perlente, khas banker. Sebab pernah di pesantren , ia terlihat pandai bersyukur. dia yang bisa dibilang paling sukses diantara teman seangkatan kami, tetap memperlihatkan aura santrinya yang santun (saya dan beberapa kawan lain belum bekerja tentu saja, seribu satu alasan bahkan kami gunakan untuk mengolor skripsi) .
Di tengah kemacetan,di belakang setir mobil pribadinya, ia bilang ingin di carikan seorang istri, saya tertawa dan mengatakan,hukum menikah untuknya memang sudah wajib, meski umurnya belum genap 24 tahun.
(inilah yang sering dibilang karibl saya sebagai keadilan Tuhan, seseorang kadang belum menemukan karier yang pas, tapi sudah menemukan pasangan yang pas. Seseorang yang lain sudah menemukan financial yang cukup,karier sesuai impian dan hobbynya, tapi belum menemukan pasangan yang pas. Orang kadang tak terlalu di banggakan keluarganya, tapi sangat di elu-elukan di tempatnya bekerja. Ada juga yang di baggakan keluarganya setinggi lagit,tapi tampak biasa saja di habitatnya yang baru. Yang paling penting , kata dia, adalah menghargai milik, dan bersyukur)
“ kenapa susah menemukan yang pas ya?” cerita itu dilanjutkan tentang gadis A, gadis B, gadis C. yang menurut saya hanya dapat ia cintai dari satu sisi dan dengan separuh hati, tidak keseluruhan sisinya (padahal laki-laki seharusnya menemukan pasangan yang ia suka dan cintai segala macam sisinya; bahkan cara mengamuk perempuan tersebut)
“ santailah” begitu jawab saya menghibur . “ jodoh itu seperti sepasang sandal, kalau yang satu selop, satunya pasti selop. kalau satunya merah, satunya juga merah. Kalau sama-sama selop tapi belum jodoh, berarti beda model, beda kembangan. Pada saatnya pasti ketemu yang cocok, Kamu kan orang baik, pasti dapatmu baik” .Dia tersenyum simpul, terdiam lama, saya tahu dia memasukkan kata-kata itu dalam prinsipnya.
Sampai stasiun senin, saya dijumpai lain, yang sudah seperti cermin saya saking akrabnya,dia kakak, juga editor novel saya, cerpen-cerpen saya, juga editor keputusan-keputusan yang saya ambil semasa dia di jogja. Dia bekerja Di Depag Pusat setelah beberapa bulan di anak penerbitan jawa pos. senang melihatnya menjadi mapan dan cakap. Dia juga minta di carikan pasangan.
Dua kawan saya tadi, tampak tenang, tampak menemukan jalan, madep mandito kalau kata mbah putri saya. Saat orang seumurannya sibuk mengikuti orang-orang berpolitik,mbuntut orang-orang besar, mereka berdiri di kaki sendiri. Saya ingat pesan seorang Alumni LPM ARENA yang telah lama tinggal di Jakarta;
“ Kalau harus di Jakarta, jangan mau jadi TBT ya” (Tukang Bawa Tas) , jangan hobby menguntit,mbuntut, kakudung welulang macan orang-orang gede, berdirilah diatas kaki sendiri.
Saya jadi trenyuh. Dulu saat seseorang menasehati saya jangan terlalu lama di jogja karena jogja itu mulat mulet (malas bangun),saya malah mengamuk. Nasehat itu meski tampak tak cocok buat sebagian besar orang, tampaknya pas untuk saya.
Sebenarnya ibu kota memang bukan ukuran, saya tak pernah bangga dengan orang2 yang pura-pura besar, heran pada sendiri, dan dengan sangat halus meminta sedikit lebih di hormati gara-gara tinggal di ibukota, tapi bagaimanapun, saya sangat menghargai proses,dan tertarik menjadikan itu motivasi hidup saya, di kota manapun ia memulai.
saya ingat cerita ibu saya setelah saya jemput pulang pengajian
“ Tadi Kyainya bilang gini, kita seringkali mendo’akan anak kita shaleh, padahal dalam hati kita ingin anak kita sukses, ibu mbrebes mendengar itu”
Saya hampir menabrakkan mobil sangking kagetnya,begitulah kebanyakan orang tua, yang di hargai adalah kesuksesan, bukan kehebatan, bukan kesalehan. Kesuksesan selalu identik dengan financial. Sedang kehebatan belum tentu; orang yang memegang teguh prinsipnya, bekerja sesuai hobby, sesuai hati nuraninya, sebaimana panggilan jiwanya, berjuang untuk kalangan kecil, atau bahkan menulis, tampak hebat, tapi bisa jadi itu belum sukses menurut orang di sekelilingnya.
Di kereta,dalam gelap yang panjang,saya sendirian terjaga, kawan saya yang kriting,lelap dalam bahagia karena Sapardi Djoko Damono bertandang dan ngobrol di stand kami,Faqih sibuk menimang buku pemberian Gola Gong yang juga mengunjungi kami, mb pijer,tampak sangat kelelahan sehabis pementasan taater kami, mungkin itu oleh2 yang membanggakan untuk mereka;
Saat menyandarkan kepala di bahu sahabat novelis saya yang terlelap itu, setelah saya menangisi pertemuan saya yang sangat singkat dengan kawan saya, setelah bangkit dari rasa kerdil saya bertemu dengan kawan yang telah mandiri tadi sementara saya belum diwisuda; saya berdo’a, semoga jika kelak saya tak bisa sukses, saya hidup di kalangan orang yang melihat kehebatan, bukan kesuksesan.
dan, ya, saya memutuskan menulis!
(condong catur,19 mei 2009)
Set as favorite
Bookmark
Email This
Hits: 79
Comments (0)

Write comment
| < Prev |
|---|


