26 s.d. 29 April 2009
"Catatan Mahbub Jamaluddin ‘Yuk Menulis Yuk’ di Jepara Jawa Tengah"
Waktu kami datang, pagi sudah hampir menjelang. Kawan-kawan dan tuan rumah, mungkin telah tidurkah? Ragu-ragu, kupencet tombol hapeku. Satu kali. Dan alhamdulillah, muncullah hakaroni, si tuan rumah yang baik hati. Kami pun langsung tidur, Ismah di “ndalem kiai”, sedang aku di “kamar khodam”.
Sempat pula aku membangunkan joni maroni. Tapi dia urung bangun. Hanya berdiri, membuka kunci, menyalami, lalu tidur pula kembali. Kupikir, tak apalah. Toh esok masih ada hari. Hari pertama, jadwal hanya malam yang pasti. Di sini pula, di PP az-zahra.
Makanya, ketika pagi tiba, aku bersantai ria. Bercengkerama. Dengan teman-teman lama. Lalu, hakaroni mengajak kami menuruti alurnya. Ke pantai kami dibawanya. Pantai pasir putih yang aku lupa namanya menjadi tujuan pertama. Lalu pantai kartini, dimana kura-kura raksasa menjulang tinggi. Beberapa pengunjung pantai. Pulau panjang. Beberapa anak SMA pacaran. Pengemis. Pengamen. Pedagang. Dan sepuas sudah kami pulang.
Malam hari, kami mengisi Training Menulis Singkat ala Komunitas Matapena di az-zahra. Tak ada yang istimewa. Semua berjalan biasa. Artinya, acara berjalan sukses seperti biasanya. Mas Jamal jualan buku di beranda. Kami mengisi acara, didampingi gus hakaroni tentunya. Dan joni. Dan beberapa khodam lainnya.
Ah, ah, apalagi yang harus kuceritakan? Percengkeramaan hanya menyisakan kerinduan. Dan hasrat untuk mengulang pertemuan. Ah, ah.
Hari kedua ada kabar bahwa acara di pesantren amtsilati gagal. Maka siang harinya. Kami pun langsung berangkat menuju walisongo. Di jepara selatan. Tepatnya di pecanga’an. Mobil kami melaju. Menyeberangi jepara. Dari jepara utara ke jepara selatan. Satu jam. Mungkin. Kami berada di jalan. Sampai di MA walisongo, pak ainun najib sudah menunggu. Kami diajak makan siang di kantornya. Dan bagi Gus Hakaroni, pertemuan siang itu adalah semacam temu mesra dengan guru-gurunya dulu. Sebab, MA Walisongo memang almamater gus hakaroni kita ini.
Sesudah menggelar sembahyang lohor, kami menuju perpustakaan yang sekaligus juga ruang pertemuan. Kami ketemu dengan kang Mustaqim, pembimbing kepenulisan teman-teman MA Walisongo, yang ternyata juga rajin menulis di media massa, selain kontributor tetap bagi NU Online. Sejenak berbincang, Gus Haka memulai dengan menjadi moderator. Lalu Isma memimpin permainan awalan, menyegarkan pikiran para peserta yang berjumlah sekitar 20-an anak itu.
Setelah praktik menulis, acara pun ditutup. Sudah pukul 15.30 waktu itu. Dan kami punya janji untuk mengunjungi pesantren Hasyim Asy’ari di Bangsri, di jepara utara sana. Cukupkah waktu?
Ketika kami berkonsultasi dengan gus Haka, pihak Hasyim Asy’ari (biasa disebut HA) mengalling kami. Kata mereka, temant-teman santri di HA sudah menunggu. Spontan, Gus Haka berkata, “Wah gak mungkin. Perjalanan paling tidak satu setengah jam.”
Setelah berbagai pertimbangan, apalagi melihat kang jamal, sopir kami yang nyambi jualan buku ternyata masih sibuk menghitung barang-barangnya dan bertransaksi, kami pun mengambil keputusan. Creative Writing di HA diundur. Besok sore. Dan sore ini, kami mengatur waktu. Bertamu ke rumah teman, mandi dan makan, istirahat, lalu sehabis maghrib berpamit menuju pesantren Balekambang.
Demikianlah. Sejenak mampir di rumah HS Narya, setelah beperjalanan satu jam lamanya, sesudah melewati desa-desa sepi, pohon tebu di kanan kiri, sampailah kami di Balekambang. Gus Miftah sudah menunggu kami di ndalemnya. Setelah bercengkerama sejenak, tahulah kami bahwa ternyata beliau alumni krapyak. Basa-basi berjalan lambat. Lalu kami pun langsung beranjak. Ke tempat acara.
Jam sembilan waktu itu. Setelah pembukaan dan sambutan dari Gus Miftah, langsung kuajak peserta bernyanyi: “Are you sleeping brother john....” Suasana demikian cair, Isma dan aku seringkali saling lempar satu sama lain. Acara ditutup dengan praktik kepenulisan dengan metode teater ala matapena. Jam menunjukkan waktu ngantuk. Tapi perut kami yang blekuthuk memaksa kami makan pula. Setelah makan, barulah cabut. Kembali ke mBangsri. Ke ndalem gus Hakaroni...
Pagi cerah sekali ketika aku terbangun. Tampaknya, jepara masih akan tetap panas untuk hari-hari ke depan. Dan bersyukurlah aku, karena ini adalah hari terakhirku di bumi kartini yang memeras keringat ini. Hihi.
Yang jelas, hari ini akan banyak kosongnya. Dan memang demikianlah. Jadwal acara creative writing alias roadshow hanya tinggal satu tempat, yakni di Pesantren Hasyim Asy’ari Mbangsri. Itu pun sore hari. Jadi? Yang terjadi terjadilah. Kang jamal harus kembali ke MA walisongo karena beberapa bukunya tidak terhitung dalam penjualan kemarin. Jeng isma entah kemana, konon kopi-darat dengan teman-teman blogger. Aku sendiri? Ngapain ya? Ah, bagaimana cara mengusir sepi? Ah, lebih baik bikin kopi...
Akhirnya sore yang ditunggu datang pula. Kami berangkat ke PP Hasyim Asy'ari (PP HA), dan langsung diantar ke ndalem. Di sana sudah banyak santri yang duduk ndeprok di lantai. Putra di dekat pintu luar, putri di dekat pintu dalam. Beberapa lama menunggu, muncullah yang ditunggu. Kiai. Kiai muda tepatnya. Kutaksir usuianya mungkin dibawah 39 tahun. Putranya yang lucu itu pun, kemudian kuketahui baru satu itu.
Kiai langsung memberikan sambutan. Dan ternyata, acara juga berlangsung di situ. Dan Kiai menunggui kami hingga selesai. Sungguh, bagi kami—terlebih bagiku sendiri—itulah pengalaman yang tak terlupakan, menggemaskan, rada grogi, dan yang jelas membanggakan.
Acara selesai setelah maghrib tiba. Namun demikian, ternyata antusiasme anak-anak HA tak berhenti hanya di forum. Kami benar-benar salut dengan mereka. Setelah shalat, meskipun forum sudah resmi ditutup, dan kami sedang bersantai sehabis makan sore suguhan kang Ma’ruf, mereka masih juga mengejar. Bertanya ini itu tentang kepenulisan. Menurut kami, tentu ini indikasi yang bagus. Mereka pasti serius di dunia literasi.
Semoga, di bumi kartini ini lahir kartini-kartini baru: juga kartono-kartono (maksude kartini cowok) bersemangat kartini, yang menyuarakan pemberontakan terhadap penindasan lewat surat-suratnya itu, yang kemudian terkumpul dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” itu. Semoga muncul Kartini-Kartini sehabis Kartini. Amin.

| < Prev | Next > |
|---|











