You are here: Home Kabar Kita Kabar Kegiatan Mendulang Penulis Muda

KOMUNITAS MATAPENA

Mendulang Penulis Muda

E-mail Print PDF
MENDULANG PENULIS MUDA
DI PONDOK PESANTREN TREMAS
ARJOSARI PACITAN
CATATAN WODKSHOP DI PP. TREMAS PACITAN 21-22 MEI 3009
Oleh : Sachree M. Daroini

Hari Rabo selesai Roadshow dari Surabaya, mobil box berisi beberapa kardus buku dan pakaian-pakaian bekas dipakai, melaju menuju kabupaten paling barat daya di Jawa Timur. Pacitan terletak di sebelah selatan Kabupaten Ponorogo, sebelah barat Trenggalek dan sebelah timur Kabupaten Wonogiri Jawat tengah. Sebuah titik geografis yang seharusnya bisa makmur dengan sumber daya alamnya yang kaya. Di Pacitan banyak sekali hutan dan pegunungan yang masuk dalam kategori subur. Selain itu Pacitan mempunyai banyak sekali pantai dan goa, kota yang dijuluki kota seribu satu goa itu memang sangat eksotik. Hari itu diatas mobil kami melaju menjuju desa Tremas kecamatan Arjosari, di daerah kelahiran presiden SBY itu memang mau diadakan workshop Matapena I.


Workshop bertempat di Pesantren Tremas, sebuah pesantren yang dihuni sekitar seribu lima ratus santri. Di daerah itu aku senmpat kebingungan, maklumlah perjalanan dari Surabaya ke Pacitan memang tengah malam. Jadi kami tidak bisa membaca arah. Belum lagi jalan gunung yang berkelok tidak tegas menambah kami tidak bisa membaca arah. Yang kami tahu hanya jalan aspal yang lumayan bagus. Entahlah proyek besar itu apa karena Pacitan tempat kelahiran SBY atau karena anaknya yang sekarang lolos sebagai anggota legislatif. Tapi, akan tidak peduli karena malam terus menyekap kami dalam kegelapan, hingga sebuah musibah hampir saja menimpa kami. Azmi, sang driver hampir saja menabrak mobil yang terparkir di pinggir jalan. Ya karena malam menyerang Azmi hingga terkantuk-kantuk.


Sesampai di Pesantren besar itu, kami hanya mendapati zikir bakda shalat subuh, padahal target kami sebelum azan subuh. Tapi hal itu tidak masalah karena di jadwal acara baru dimulai selesai zuhur. Yang kami lakukan adalah menyerang ruang tamu pondok dengan dengkuran dan kami berhasil. Mie rebus, dan kopi hangat tak mampu membangunkan kami. Kami lelap dalam tidur disaat para santri menukil ilmu dari ceruk sang guru.

Tiga jam sebelum pembukaan, saya berdiskusi kecil dengan Mbak Isma yang telah berada lebih dulu di Tremas. Menyamakan teknik, mempertegas tor dan membuat konsep outbond. Maklumlah aku lama tidak ikut dalam diskusi di Matapena, akhirnya kami menemukan kesepakatan.


Worskhop di Pesantren Tremas diikuti enam puluh dua santriwan dan santriwati. Sebuah aplous besar memberi kami luang untuk bersemangat. Pada sesi perkenalan, sebagai penulis kami gunakan untuk bernarsis ria, maklumlah beberapa novel Matapena termasuk novel kami sudah berada duluan di Pesantren ini, tapi para Santri belum pernah melihat penulisnya. Mereka sudah membaca Love In Pesantren, Santri Tomboy, Jerawat Santri atau Ja’a Jutek tapi baru sekarang mereka bertemu penulisnya. Dan beberapa santri mengatakn ternyata penulis Love In Pasntren nggak gaul, itu yang kemudian aku ketahui pada session penelusuran lokalitas pesantren. Terima kasih Dimas, Dayat, Ghozali dan yang lainnya…


Pada woskshop kali ini, kami bertemu dengan santri-santri yang sangat kental ke-salafiyyahanya, yang aku anggap merupakan mutiara di balik cadas dan pegunungan Pacitan. Bagaimana tidak, ketika beberapa santri seperti saya tidak malu lagi berdiri di depan santri putri mereka masih dengan alamiahnya menunjukkan identitas, karakter dan budayanya sebagai santri yaitu Malu. Namun yang digarisbawahi dari para santri ini, ternyata mereka mempunyai semangat dan wawasan yang luar biasa, mereka tidak gagap mengucap kata u can see untuk menyebut salah satu ikon gaul, meski itu tak terpikir dalam otak mereka untuk memakainya, atau PS dan bahkan Mp7 yang ternyata aku sendiri tidak akrab dengan bahasa itu. Dan mereka juga tidak takut untuk bercerita tentang dirinya, sebuah penelusuran psikologis yang belum tentu orang semacam saya mampu dan tega menceritakan hidupku.


Beberapa santri menunjukkan eksistensinya pada ruang kreatifitas yang tidak terbatas. Meski mereka sendiri tidak sadar, atau justru dengan kesadaran penuh mereka mencipta kelompok masyarakat dengan subkultur sendiri yang bernilai humanisme tinggi yang merupakan warisan leluhur. Bahasa lokal itu dapat kami lihat dari cara menulis mereka yang begitu linear dan bahasa yang sudah mulai menyentuh level puitik, merupakan hasil perenungan humanity atas hidup manusia di pesantren. Pijakan dan cara berpikirpun khas, hal itu didasarkan pada tradisi baca mereka kitab suci, kitab kuning dan keshalehan sosial yang khas. Ketakdziman, penghormatan, kasih sayang dan saling menghargai. Yang semuanya ada dalam kehidupan keseharian pesantren.


Hari kedua workshop, kami membaca lingkungan, menelusuri jejak budaya, hutan, gunung, air, udara dan segala makhluk hidup yang ada di dalam lingkup pesantren. Mengasah sensitifitas, menakhlukkan segala yang tak terinderakan dan menulis apa yang menjadi keyakinan kami indah. Alhasil, santri terpaku di tengah lapang, santri berada di dekat sungai ketika para penduduk memfungsikan sungai hanya untuk membuang kotoran. Dan beberapa santri tersimpuh diatas lembar daun kelapa kering, sebuah kepasrahan total untuk menulis karya.


Tidak hanya itu, workshop kali ini bisa dibilang workshop dengan peserta terbanyak, karena semenjak presensi diadakan dari awal hingga akhir hampir semua hadir mengikuti acara workshop session by session.  Di akhir workshop, teman-teman menegaskan semangat mereka untuk terus berproses menulis di komunitas Arjuna untuk santri putera dan Muna Ma’hady untuk santri puteri. Sebuah jalan menuju lahirnya novel di pesantren tengah gunung ini terlempang. Worksho pun ditutup dengan fatihah, sebuah aplous besar kami atas penjagaan mereka pada tradisi pesantren yang adikultur.


Di akhir kunjungan worshop kami di pesantren Tremas, kami bertiga Azmi, saya dan Mbak Isma sowan kepada ketua majelis pondok yaitu Gus Luqman, betapa dukungan dan harapan besar lelaki yang humoris itu terhadap Matapena dan komunitras Arjuna, membuat kami bersemangat untuk terus berjuang dan menegakkan tradisi cinta di pesantren yang telah ada dari sejak dulu.


Mobil box terus melaju menyusuri jejak pegunungan yang gelap, sesekali kami mengisi dengan obrolan agar Azmi tidak tertidur tapi akhirnya saya pun terkapar kalah oleh serangan malam. Hingga terbangun mobil sudah masuk kota Ponorogo. Dan jalan pun tak lagi berkelok seperti Pacitan yang elok…Wllahu a’lam bisshawab.

 

******

Comments (5)Add Comment
76
...
written by zaki zarung, May 27, 2009
pesantren ga bakal habis...!smilies/wink.gif
0
mendulang
written by isma, June 01, 2009
salut dengan support gus luqman buat santrinya berkarya... smilies/smiley.gif
0
...
written by mah, June 02, 2009
sik asyik. btw, sopo sing di-dulang? penulis muda gak bisa makan sendiri ya, kok harus didulang...
74
wkwkw
written by mah, June 08, 2009
Jadi teringat Syaikh Mahfudz at-Turmusi... Adakah generasi pesantren yang meneruskan spiritnya? smilies/cry.gif
104
...
written by Khozinatul Asror, July 05, 2009
indahnya sebuah pesantren terkadang membuat kita berpikir. andai dulu kami belajar di tempat berwawasan islami tersebut.hem... akankah keislaman jati diri yang kita cari selama ini dan telah kita dapatkan. hilang atau akan terlambat terlaun hilang atau mungkin kini telah hilang. hanya kita yang bisa menjawabnya.

Write comment

busy
Last Updated ( Thursday, 28 May 2009 11:19 )  

Latest Members

Galeri Foto

Berlangganan FEED via email

Enter your email address:

Latest Comments

Who's Online

We have 5 guests online