Saya jadi ingat, sejak kecil saya akrab dengan kata itu, Tahlilan ke masjid dengan membawa uang 500 rupiah untuk infak. Forum remaja kampung yang rutin dilaksanakan setiap minggu. Rangkaian do’a mulai surat-surat pendek, al-ikhlas, al-falaq, an-naas, dan al-faatikhah, lalu dilanjutkan 5 ayat surat Al-Baqoroh, ayat kursiy, tasbih, tahmid, takbir, sholawat, sampai pada puncak membaca tahlil dan do’a.Waktu itu terpatri dalam ingatanku, siapa yang tak mau ikut tahlilan, berarti dia orangnya ‘nggak gaul’. Kuper alias kurang pergaulan. Tidak tahu banyak isu-isu yang pastinya secara otomatis jadi bahan diskusi alias ‘nggosip’ setelah ritual tahlilan tersebut.
Serupa tapi tak sama, begitulah kusebut momen itu. Remang lampu garasi, rintik gerimis, sebuah panggung di ujung, teras mushola yang sunyi, dan beberapa ‘pecinta dzikir dan puisi’. Malam jum’at, 29 Oktober 2009. Kembali kerinduan tumpah selayak tetes-tetes hujan menyiram tanah.
“Yaa ma’syaras syu’ara’… “ sunyi mulai menyua ketika seorang ‘rois’ menyeru untuk memulai ritual. Lingkaran ‘jama’ah sastra’ malam itu semakin melebar ketika beberapa teman datang dan turut memeriahkan.
“Ibtigho’an limardhootihii warokhmatihii, alfaatikhah…” ucap Kang Mahbub yang bertugas memimpin Tahlilan.
“Ilaa khadhrotin nabiyyil musthofaa shollallahu ‘alahi wasallam alfaatikhah…” Dan kemudian….
Dzikir-dzikir suci menggema. Tepat pada saat lafadz “laa ilaha illallah” entah pada ritme dan hitungan yang ke berapa, Pijer membacakan sebuah puisinya yang berjudul “Memilin-Mu”. Tahlil terus mengalun, Mahrus menyusul dengan 3 buah puisi, “Selamat Pagi Jogja” karyanya sendiri, dan “Raja” serta “Rajaku” karya Ahmad Fikri. Lalu dilanjutkan Akhiriyati Sundari membacakan beberapa karya …….. Tak henti mulut jama’ah menyeru nama gusti. Laa ilaaha illallah… laa ilaaha illallah…. Sampai ketika imam Mahbub Jamaluddin yang memandu berhenti dan menutup dengan do’a.
Inilah tahlilan dalam puisi, puisi dalam tahlilan.
Tentang Syair atau Puisi….
Sudah syairkah kata-kata yang kususun? Sudah puisikah?
Apakah aku sudah bisa disebut penyair?
Kekal Hamdani memulai dengan menanyakan identitas ‘kepenyairannya’ sebelum kemudian ia membacakan beberapa puisi karyanya sendiri juga karya Em Ha Ainun Najib. Ia bercerita waktu dia masih SMA, guru-gurunya mempermasalahkan ketika dia menyebut dirinya dengan nama ‘penyair’. Kenapa sih mengaku ‘penyair’ saja dipermasalahkan?
Ah, tapi kemudian, peduli apa dengan cerita singkat Kekal. Semua yang hadir hanya ingin menikmati puisi seperti halnya mencecap Jeruk Kopeng yang tersuguh di hadapan mereka.
Tak ketinggalan pula, malam itu beberapa hadirin yang berurutan membacakan puisi adalah; Akhmad Fikri , Imam Ghozali, Munajat sunyi (Kasidah Banten dan Musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono), Fajar (Perjalanan malam-malam), Wildan (Datang), Zainul Muttaqin (Riwayat Sunyi Tubuhmu dan Perantauan), Zavien Aunjand (Puisi untuk “ALLAH” dan puisi mati), Kekal hamdani (kata-kata kota dan 9 perihal).
Dan di ujung pertemuan, Mahbub Jamaluddin mencoba menjawab keraguan tentang ‘syair dan kepenyairan’ dalam puisinya “Telepon Pagi ini”. Mahbub mencoba mereview tentang ‘haruskah puisi itu memuat kritik sosial?” seperti halnya ‘haruskah novel itu memuat nilai-nilai LVE yang ia contohkan dengan sebuah nilai kesederhanaan?’
Dan sebagaimana saya juga sepakat dengan pendapat saya sendiri. Kenapa musti memperdebatkan ini puisi beneran, atau ini penyair beneran? Menurut saya puisi adalah ekspresi jiwa, media luapan emosi yang disusun lebih indah, dan idealnya bisa mengetuk nurani. Itu saja. (Pijer)
Set as favorite
Bookmark
Email This
Hits: 201
Write comment
| < Prev | Next > |
|---|



