You are here: Home Wacana Wacana Sastrawan Muda (Pinggiran) di Pesantren

KOMUNITAS MATAPENA

Sastrawan Muda (Pinggiran) di Pesantren

E-mail Print PDF
TAHUN 2006, tahun penuh warna, akan segera berlalu.Tahun 2006,tentu menyisakan banyak cerita seputar jagat seni menulis. Sepanjang tahun penuh bencana itu, jagat seni menulis dan jagat perbukuan Indonesia masih didominasi karya sastra. Karya-karya sastra dari pelbagai macam genre muncul merebut simpati publik.

Semuanya serbariuh dan gemerlap. Namun, di balik gejala menggembirakan bagi dunia sastra itu, karyakarya sastra yang banyak bertebaran ternyata lebih banyak dihasilkan oleh para pemain lama, nyaris tanpa ada nama baru, apalagi penulis muda. Hanya ada nama Radhar Panca Dahana, Jakob Sumardjo, Remy Sylado, Maman S Mahayana,Ayu Utami, Nirwan Dewanto,Seno Gumira Aji Darma, Hudan Hidayat,Agus Noor,Puthut EA, Djenar Maesa Ayu,dan Dewi Lestari.

Mereka seolah dianggap sebagai ”selebritis” sastra yang tidak tergoyahkan. Adapun mereka adalah penulis yang telah teruji karya-karyanya, hal itu tidak perlu diperdebatkan lagi. Berderet karya berkualitas mereka adalah bukti nyata yang mampu menyaput sinisme yang diarahkan. Namun, bila dilacak lebih jauh lagi, bisa jadi itu adalah gejala minimnya kreativitas kita dalam menghasilkan penulis-penulis muda berbakat.Terutama, bagi kaum muda yang ada di pelosok desa atau juga di pesantren yang masih dianggap sebagai lembaga pendidikan nonformal yang udik.
Memang,ada banyak penulis muda yang muncul di tengah kesemarakan dunia penerbitan sastra kita. Buktinya, lima tahun terakhir ini, dunia penerbitan sastra banyak disemarakkan karya sastra pop dari penulis muda.Terbitnya buku-buku chicklitteenlit adalah bukti nyata menyeruaknya ”ruang gelisah” publik sastra kita untuk menggugat kemapanan penulispenulis tersohor.

Sedikit nama, di antaranya, sebut saja Rachmania Arunita dengan novel Eiffel I’m in Love yang laris manis bak kacang goreng di pasaran. Kemunculan Rachmania cukup fenomenal.Novelnya sejak terbit tiga tahun lalu, sudah naik cetak beberapa kali.Bahkan,meski sedikit berlebihan, Rachmania bisa disamakan dengan kisah novelis Helen Fielding yang novelnya, Bridget Jone’s Diary,menjadi buruan di pasar internasional.

Selain Rachmania,ada nama Icha Rahmawati sebagai penulis muda nan berbakat. Novelnya, Cintapuccino, booming dan kini sudah naik cetak dua belas kali. Di satu sisi, kemunculan penulispenulis muda itu patut mendapat apresiasi.Namun,di sisi lain,hal itu juga menunjukkan perbedaan budaya tulis yang mencolok antara anak muda kota dan anak muda di pelosok desa. Dua penulis muda yang saya contohkan di atas adalah ”produk” dari perkotaan.

Bagaimana dengan anak muda dari dunia pesantren? Jawabannya jelas, dalam dunia penerbitan sastra kita, sangat sulit ditemui nama yang ”berbau”pesantren. Namun itu dulu. Cerita muram tentang minimnya karya sastra dari pelosok atau komunitas yang selama ini dianggap ”pinggiran” seperti pesantren kini telah berakhir. Setahun belakangan ini, tidak sedikit karya sastra dari sastrawan muda ”pinggiran” itu yang berhasil menghiasi etalase-etalase toko buku di Tanah Air.

Ada nama Shachree M Daroini, Ma’rifatun Baroroh,Fahrudin Nasrulloh, Pijer Sri Laswiji, Zaki Zarung, S Tiny, dan Mahbub Jamaludin. Shachree M Daroini menulis novel Bola-Bola Santri, Ma’rifatun Baroroh menulis Santri Semelekete, Pijer Sri Laswiji menulis Kidung Cinta Puisi Pegon, Zaki Sarung menulis Santri Baru Gede, S Tiny menulis Dilarang Jatuh Cinta, dan Mahbub Jamaludin menulis Pangeran Bersarung.

Novelnovel yang ditulis oleh sastrawan belia pesantren tersebut meminjam analisis puisi model Hipolyte Taive, pada dasarnya merupakan perwujudan dari teori ketergantungan karya literer dengan fenomena pada zaman dan lingkungannya. Karya literer (puisi, novel) selalu mencobamerefleksikan,mencatat,dan menafsirkan problematika zaman dan lingkungannya. Paling tidak, karya tersebut memang berusaha menjadikan dirinya sebagai saksi atas berbagai peristiwa dan kondisi sosial.

Dalam konteks ini,tangan-tangan kreatif dari komunitas ”lain” bernama pesantren itu mencoba memotret realitas keseharian pesantren lengkap dengan dinamikanya. Realitas keseharian, seperti perilaku gus (putra kiai) ketika santri jatuh cinta dan kerja keras untuk belajar di tengah kesederhanaan disajikan dengan sangat jujur dan bernas. Masyarakat yang menganggap pesantren sebagai komunitas udik dengan baju kumal dan penyakit kulit para santri akan dibuat ”insaf”bahwa pesantren ternyata juga sangat berpotensi dalam penerbitan sastra. Novel Bola-Bola Santri karya Shachree,misalnya, mampu memotret dengan cukup utuhperjalananhidupseoranggusalias putra kiai.

Kisah pergaulan gus dengan sesama gus,para santri,juga warga sekitar kampung mengusung nilai lokalitas ala pesantren yang cukup kental. Novel-novel mereka memang kental dengan nuansa pesantren. Suasana udik ala pesantren ditampilkan apa adanya.Novel-novel ini, meski masih sangat sederhana, sudah bisa mengusung semangat estetika lokal—semangat yang melandasi pelaksanaan Kongres Cerpen Indonesia di Riau beberapa waktu lalu.

Meski tak sesempurna Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari dalam mengusung semangat lokalitas, novel-novel mereka tetap mampu menyeruakkan aroma pesantren. Penggunaan istilah-istilah yang biasa dipakai di pesantren,seperti roan, ghasab, pawestren, ndalem, dan takzir sangat membantu novel-novel mereka menjadi semakin terasa ”nyantri”. Lalu, apa langkah yang tepat bagi sastrawan muda ”pinggiran” ini ke depannya?

Langkah awal brilian berupa lahirnya novel-novel di atas perlu lebih didukung publik sastra guna pengembangan sebuah karya sastra yang lebih serius dan tematik,mulai dari plot maupun materi cerita. Dengan begitu, kemunculan mereka tidak sekadar ”hangat-hangat tahi ayam”sehingga kita bisa memacu lahirnya sastrawan-sastrawan muda dari pesantren.

Terkait dengan itu, mungkin ada yang menganggap saya berlebihan dengan menyebut mereka sebagai ”sastrawan” hanya karena karya mereka belum benar-benar teruji seperti karya ”selebritis” sastra papan atas Indonesia. Sudahlah, buang jauh pola pikir positivisme seperti itu.Toh mereka juga berkarya. Itu sudah cukup untuk mengatakan bahwa pemilik tangan-tangan kreatif dari pesantren itu sebagai seorang sastrawan, meski dengan embel-embel ”pinggiran”.(*)

MOHAMMAD ERI IRAWAN
Santri ”jalanan” di sejumlah pesantren di Jember,
aktif di Rumah Baca dan Diskusi Taman Katakata Jember, Jatim

SUMBER: KLIK!
Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
 

Latest Members

Galeri Foto

Berlangganan FEED via email

Enter your email address:

Latest Comments

Who's Online

We have 8 guests online